Kembali Ke Halam Depan

 

KECURANGAN UNAMET

SELAMA JAJAK PENDAPAT DI TIMOR TIMUR PADA TAHUN 1999

- Hasil jajak pendapat yang dalam rencana semula akan diumumkan tanggal 7 september 1999, karena penghitungan seluruh kartu suara dapat diselesaikan lebih cepat, sehingga UNAMET memajukan waktu pengumuman 3 hari lebih awal   menjadi tanggal 4 September 1999. Tepat pukul 09.15 wita pada tanggal 4 September 1999 secara resmi diumumkan hasil jajak pendapat dengan perolehan suara 94.388 untuk opsi-1 pro otonomi dan 344.508 untuk opsi-2 pro kemerdekaan atau opsi-1 memperoleh 21,5% sedangkan opsi-2 memperoleh 78,5% suara.

- Sesaat setelah diumumkannya hasil jajak pendapat ini, terjadilah kerusuhan dan amukan massa di sebagian besar wilayah Timor Timur. Benturan-benturan fisik berskala besarpun terjadi antara pendukung pro otonomi dan pro kemerdekaan yang dibarengi dengan perusakan, pembakaran, menuntut keras dan mengancam UNAMET agar tidak boleh meninggalkan lokasi mereka di 13 kabupaten di seluruh wilayah Timor Timur untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan mereka yang telah dengan sengaja melakukan kecurangan secara terang-terangan dalam upaya memenangkan pro kemerdekaan. Amukan massa yang anarkhis ini telah mengakibatkan hancurnya sebagian besar sarana prasarana bangunan milik masyarakat maupun pemerintah serta menimbulkan korban jiwa di beberapa daerah.

- Masyarakat pro otonomi yang telah 23 tahun berintegrasi dengan Indonesia, dengan penuh kekecewaan meninggalkan tanah kelahirannya mengungsi bersama masyarakat pro otonomi lainnya keluar dari wilayah Timor Timur. Mereka merasa sebagai bangsa Indonesia, mereka meninggalkan tidak hanya harta benda tetapi juga sebagian keluarga yang hilang terpisah bahkan turut menjadi korban selama aksi bentrokan massa dari kedua kubu. Hanya sebagian kecil harta milik mereka yang dapat dibawa, sedangkan lainnya ditinggal dengan terlebih dahulu mereka hancurkan atau membakarnya. Di dalam benak mereka hanya ada “ketidakrelaan harta benda yang mereka dapatkan dengan jerih payah sendiri ditinggalkan untuk dinikmati oleh pihak lain”. Dan di dalam pikiran mereka hanya ada Indonesia satu-satunya negara yang mereka cintai, demi Indonesia apapun mereka korbankan walaupun sampai saat ini masih sekitar 133.145 sisa mereka di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tidak pernah terlepas dari penderitaan hidup sebagai akibat pisahnya Timor Timur dari negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mereka belum mengetahui secara pasti bagaimana nasib dan masa depan kehidupan mereka, mereka hanya menunggu dan menanti kepastian dari pemerintah Indonesia. Yang lebih membuat terenyuh adalah di sepanjang pondok rapuh tempat mereka berteduh, berkibar merah putih serta banyak pula di antara manusia-manusia yang menderita ini melilitkan merah putih di tubuhnya serta membawanya kemanapun mereka berada, bagi mereka benda keramat inilah yang paling berharga dari segalanya.

- Sebagian bangsa Indonesia tidak mengetahui keadaan ini, yang mereka dapatkan dari berbagai media hanya berita-berita tentang tuduhan-tuduhan pelanggaran hak asasi manusia yang dikumandangkan oleh dunia internasional terhadap aparat keamanan dalam hal ini TNI dan POLRI serta perbuatan-perbuatan keji milisi yang notabene dilakukan oleh pihak pro otonomi. Padahal sesungguhnya apa yang telah terjadi di Timor Timur, kerusakan, pembakaran bangunan sehingga jatuhnya korban jiwa, tidak hanya dilakukan oleh pihak pro otonomi yang kecewa terhadap hasil jajak pendapat tetapi juga dilakukan oleh masyarakat pro kemerdekaan yang kembali memasuki kota-kota di seluruh kabupaten dan membersihkan masyarakat pro otonomi yang mereka temukan setelah sebagian besar masyarakat pro otonomi meninggalkan Timor Timur.

- Tanggapan dari media maupun pengamat Timor Timur baik dari dalam negeri maupun luar negeri telah bermunculan memberitakan tentang isu Timor Timur. Awalnya sebagian media memberitakan masalah Timor Timur secara negatif, tetapi akhir-akhir ini, setelah mereka memperoleh fakta-fakta tentang kejadian yang sebenarnya di Timor Timur, sebagian media menyatakan bahwa yang terjadi di Timor Timur adalah suatu amukan massa yang kecewa atas perbuatan kecurangan UNAMET. Wartawan O’kanne dari media The Guardian, setelah tiga hari melaksanakan investigasi terhadap lebih dari 100 pengungsi di Timor Timur, hanya satu orang pengungsi yang mengaku bahwa anggota keluarganya tewas terbunuh. Investigasi ini dilakukan karena munculnya wawancara televisi seorang sukarelawan dari Australia yang mengklaim bahwa ia melihat mayat-mayat berserakan di markas POLDA Dili. Atas dasar temuannya itulah The Guardian seperti yang ditulis Republika, Selasa 28 September 1999 memuat topik besar bahwa “pembantaian massal di Timor Timur bohong besar”.

- Kunjungan rombongan dewan keamanan PBB yang dipimpin Dubes Namibia, Martin Aujaba tanggal 11 September 1999 ke Dili adalah untuk meninjau dan mengklarifikasi adanya berita dari media asing saat itu yang memberitakan terjadinya pembunuhan massal di POLDA Timor Timur, Gereja Motael di Dili hancur dibakar dan tertembaknya uskup Basilio. Rombongan dewan keamanan PBB secara langsung melihat ketiga obyek tersebut dan meyakinkan bahwa tulisan media asing tersebut adalah tidak benar. Salah satu tulisan Kompas, Selasa 12 Oktober 1999 tentang “the perfect crime” hiper realitas Timor Timur, menulis bahwa : opini global yang digambarkan sebagai sebuah teater kemanusiaan yang menakutkan ini terbentuk bersamaan dengan terjadinya disinformasi oleh media-media informasi global, khususnya CNN, yang menyajikan kepada publik global realitas yang telah disaring, disensor dan dipilih sesuai dengan kepentingan mereka (Amerika Serikat dan sekutunya) sehingga yang terjadi adalah, di satu pihak dramatisasi sebuah realitas (kekejaman milisi dan TNI/POLRI, di pihak lain mistifikasi atau penyembunyian realita-realita lain (kecurangan UNAMET, kebrutalan historis dari kelompok FALENTIL/FRETILIN, CNRT). Yang disajikan media global adalah separuh realitas dan kebenaran, sambil menyembunyikan separuh yang lainnya, yang disajikan adalah realitas semu - the hyper reality of media.

- Saya sebagai DNREM 164/ED di Timor Timur, yang menjabat mulai tanggal 13 Agustus 1999 di kala jajak pendapat telah memasuki hari ke - 3 dari 17 hari waktu kampanye, mengikuti semua perkembangan yang terjadi selama jajak pendapat dan pasca jajak pendapat dilaksanakan. Ingin sedikit saya mengulangi untuk kembali mengingatkan kita semua bahwa sejak dibentuknya UNAMET pada tanggal 11 Juni 1999 yang merupakan tindak lanjut dari perjanjian Tri Partit tanggal 5 Mei 1999, tentang diberlakukannya jajak pendapat di Timor Timur, mulai saat itu UNAMET melakukan tahapan kegiatannya dalam rangka mendukung pelaksanaan jajak pendapat secara adil untuk menentukan masa depan rakyat timor timur melalui tahapan sebagai berikut :

= mulai tanggal 16 Juli s.d. 10 Agustus 1999 (26 hari) : tahap pendaftaran.

= tanggal 11 s.d. 27 Agustus 1999 (17 hari) : tahap kampanye.

= tanggal 28 s.d. 29 Agustus 1999 (2 hari) : periode tenang.

= tanggal 30 Agustus 1999 (1 hari) : pemungutan suara.

= tanggal 31 Agustus s.d. 6 September 1999, kemudian dimajukan menjadi tanggal 3 September 1999 : penghitungan suara.

= tanggal 7 September 1999, kemudian dirubah menjadi tanggal 4 September 1999 : pengumuman hasil jajak pendapat.

- Sejak awal kedatangannya UNAMET di dalam merekrut local staff serta menentukan tempat-tempat pemungutan suara (TPS) telah banyak mendapatkan komplain dari masyarakat pro otonomi karena local staff yang direkrut adalah orang-orang pro kemerdekaan dan letak TPS kebanyakan dekat dengan pemukiman-pemukiman masyarakat pro kemerdekaan. Memulai memasuki tahapan jajak pendapat, sikap mendukung pro kemerdekaan tidak hanya dilakukan oleh institusi UNAMET dan local staff-nya saja, tetapi turis asing dan wartawan asingpun secara terang - terangan turut berperan dengan tidak memperdulikan komplain masyarakat pro otonomi dan institusi pemantau lainnya.

- Kecurangan-kecurangan menonjol yang dapat direcord sebelum pelaksanaan jajak pendapat (sebelum tanggal 30 Agustus 1999) antara lain adalah :

= Perekrutan local staff diambil hanya dari dari masyarakat pro kemerdekaan atau masyarakat yang mau memilih opsi-2 pro kemerdekaan.

= Sebagian besar lokasi TPS dari 274 TPS dengan lebih dari 700 bilik suara, terletak di lokasi yang dekat dengan pemukiman/tempat tinggal pro kemerdekaan.

= Tanggal 16 Juli 1999 di desa Ritabo kecamatan Maliana kabupaten Bobonaro 3 anggota UNAMET memaksa masyarakat melepas baju yang bertuliskan pro otonomi dan menurunkan bendera Merah Putih yang berkibar di rumah-rumah penduduk.

= Tanggal 20 Juli 1999 di desa Comoro kabupaten Dili anggota UNAMET dan local staff-nya melakukan intimidasi dengan memperbolehkan masyarakat mendaftar kalau mau memilih opsi-2 (pro kemerdekaan).

= 21 Juli 1999 di kab. Ainaro oleh magherchris (CIVPOL asal Australia) bersama 4 personel UNAMET lainnya melakukan intimidasi pada saat menjelaskan tata cara pendaftaran dengan mengatakan pada masyarakat setempat : “23 tahun berintegrasi tidak ada hasilnya, pembagian sembako hanya untuk merayu, jangan percaya Indonesia, pilih opsi-2”.

= Tanggal 27 Juli 1999 di ds bercoli kab. Baucau oleh personel UNAMET no. Ran 303 menjelaskan kepada masyarakat setempat bahwa : “kedatangan UNAMET ke Timor Timur adalah untuk memerdekakan Timor Timur, perang saudara akan terjadi di Timor Timur dan itu adalah biasa bagi negara-negara yang sedang dilanda konflik di dunia manapun”.

= Tanggal 5 Agustus 1999 di kabupaten Ainaro UNAMET mengizinkan pembentukan dewan mahasiswa tanpa terlebih dahulu mendapatkan izin dari aparat pemda setempat, sehingga menimbulkan aksi protes dari masyarakat pro otonomi.

= Tanggal 5 Agustus 1999 di kab. Bobonaro anggota UNAMET yang sedang menerima pendaftaran mengatakan : “kedatangan UNAMET hanya untuk bekerjasama dengan FALENTIL, bukan dengan Indonesia”. Akibat pernyataan tersebut terjadi keributan.

= Tanggal 6 Agustus 1999 masyarakat melaksanakan aksi protes kepada UNAMET agar mengganti local staff yang tidak netral.

= Tanggal 8 Agustus 1999 surat kabar lokal Timor Timur memberitakan perilaku tidak terpuji dari anggota UNAMET yang telah memperkosa wanita-wanita Timor Timur.

= Tanggal 14 Agustus 1999 di ds. Paragua dan ds. Gulolo kab. Bobonaro anggota UNAMET atas nama Smith asal Australia bersama seorang rekannya menghentikan mobilnya di depan rumah masyarakat dan mengatakan : “apabila masyarakat tidak menurunkan bendera Merah Putih yang dikibarkan di rumah masing-masing, maka akan saya sobek dan kalau tidak, akan ada rombongan CNRT di belakang yang akan merobeknya”.

= Tanggal 28 Agustus 1999 di kab. Maliana, anggota UNAMET atas nama Pieter Bartu (asal Australia) memutarbalikkan berita-berita tentang kejadian-kejadian di daerah Maliana, sehingga menyebabkan terjadinya ketegangan antara masyarakat pro kemerdekaan dan pro otonomi. Pieter Bartu inilah yang mengusulkan kepada pimpinan UNAMET untuk mengganti DANDIM, KAPOLRES dan beberapa Bintara KODIM Maliana sehingga menyebabkan masyarakat pro otonomi semakin tidak menyenangi UNAMET.

= Kecurangan secara terang - terangan dilakukan pada tanggal 30 Agustus 1999 di seluruh wilayah Timor Timur. Dari laporan berbagai pihak tercatat ada 29 macam kecurangan, 27 macam di antaranya dilakukan oleh UNAMET bersama unsur-unsur pendukung pro kemerdekaan yang dilakukan di 89 TPS dari 274 TPS yang tersebar di 13 kabupaten se wilayah Timor-Timur. Macam pelanggaran tersebut adalah :  

Yang dilakukan UNAMET :

 mengintimidasi/mempengaruhi memilih opsi-2, tercatat 20 pengaduan dari Dili, Suai, Baucau, Los Palos, Ambeno.

 memajukan (mempercepat) waktu memulai dan penutupan jajak pendapat, tercatat 5 pengaduan dari Dili, Ermera.

 sejumlah kartu suara telah dicoblos dan dipersiapkan tinggal dimasukkan ke kotak suara, tercatat 2 pengaduan dari Dili.

 sebelum pemilihan dimulai kotak suara tidak dibuka, tercatat 1 pengaduan dari Ailiu.

 telah mengisi kotak suara dengan kartu-kartu suara sebelum pencoblosan dimulai, tercatat 2 pengaduan dari Los Palos.

 mengarahkan pemilih buta huruf dan orang-orang tua untuk memilih opsi-2, tercatat 2 pengaduan dari Dili, Los Palos.

 tidak mengizinkan pemantau nasional sebaliknya pemantau internasional dapat dengan mudah mengecek bilik-bilik suara, tercatat 1 pengaduan dari Dili.

 menolak POLRI mengawal kotak-kotak suara, sebaliknya menggunakan CNRT untuk mengawal kotak-kotak suara, tercatat 1 pengaduan dari Dili.

 CIVPOL menahan pemilih dengan alasan yang tidak jelas. Tercatat 1 pengaduan dari Dili.

 memberikan kemudahan kepada wartawan asing, mempersulit wartawan nasional untuk meliput di TPS, tercatat 1 pengaduan dari Viqueque.

Yang Dilakukan Local Ataff :

 mengarahkan / mempengaruhi / memaksa mencoblos opsi-2, tercatat 17 pengaduan dari Dili, Ermera, Ailiu, Maliana, Ainaro.

 petugas di TPS mencoblos kartu-kartu suara dengan opsi-2 tanpa seizin pemilih, tercatat 3 pengaduan dari Los Palos, Ermera.

 mengantar dan menunjukkan kepada orang-orang tua ke kotak suara untuk mencoblos opsi-2, tercatat 1 pengaduan dari Dili.

 merampas kartu suara dan pemilih tidak diperbolehkan mencoblos, tercatat 1 pengaduan dari Ermera.

 membagi kartu suara, membisikkan agar memilih opsi-2, tercatat 3 pengaduan dari Maliana, Ambeno.

Yang Dilakukan Falentil :

 menghadang/mengintimidasi masyarakat pro otonomi yang akan menuju ke TPS, tercatat 3 pengaduan dari Ermera, Ailiu.

 mengintimidasi dari belakang bilik suara untuk memilih opsi-2, tercatat 2 pengaduan dari Ermera.

 show of force dengan menggunakan senjata di sekitar TPS untuk mempengaruhi masyarakat memilih opsi-2, tercatat 1 pengaduan dari Baucau.

 Yang Dilakukan Pro Kemerdekaan :

 memblokade masyarakat pro otonomi menuju ke TPS, tercatat 1 pengaduan dari Dili.

 menjaga TPS dengan berseragam militer sambil membisikkan memilih opsi-2, tercatat 1 pengaduan dari Dili.

 mengarahkan / mempengaruhi / memaksa memilih opsi-2, tercatat 9 pengaduan dari Dili, Viqueque, Ailiu.

 menyebarkan isu pelemparan granat agar masyarakat pro otonomi takut ke TPS, tercatat 1 kali pengaduan dari Suai.

 menyerang massa pro otonomi sehingga mengungsi dan tidak memilih, tercatat 1 pengaduan dari Ailiu.

Yang Dilakukan Mahasiswa Pro Kemerdekaan :

 membagikan kartu suara ke rumah-rumah untuk memilih opsi-2, tercatat 1 pengaduan dari Dili.

 mempengaruhi masyarakat untuk mencoblos opsi-2, tercatat 3 pengaduan dari Viqueque.

Yang Dilakukan oleh Turis/Wartawan Australia :

 membawa 1 bundel sampel suara yang telah dicoblos opsi-2 untuk diberikan kepada masyarakat, tercatat 1 pengaduan dari Suai.

Yang Dilakukan oleh Pro Otonomi :

 menyerang local staff UNAMET di TPS karena terus melakukan intimidasi, tercatat 1 pengaduan dari Ermera.

Kartu Suara Yang Salah Cetak :

tercatat 1 pengaduan dari Baucau.

- United Front For East Timor Autonomy (UNIF) yang ditandatangani oleh Basilio Dias Araujo di Dili pada Senin malam tanggal 30 Agustus 1999 memprotes keras kepada UNAMET dan perwakilan PBB di Jakarta tentang semua kecurangan jajak pendapat yang dilakukan secara sistematis dan telah merugikan ribuan suara bagi kelompok pro otonomi. Di kala protes keras masyarakat pro otonomi belum ditanggapi secara baik, UNAMET memajukan waktu pengumuman dari tanggal 7 September menjadi tanggal 4 September 1999. Hal ini telah menambah kekecewaan pro otonomi sehingga terjadi amukan massa yang menuntut pertanggungjawaban UNAMET.

- Apakah yang dilakukan oleh aparat keamanan dalam upaya mengatasi amukan massa yang berskala besar hampir di seluruh wilayah Timor Timur ? Walaupun sejak diberlakukannya jajak pendapat sampai dengan tanggal 5 September 1999 kodal masih di tangan POLRI, namun tni telah berupaya berbuat, antara lain :

= Membantu mencarikan titik temu terhadap berbagai permasalahan dari kedua kubu melalui forum sub KPS yang telah terbentuk di setiap kabupaten. Apabila tidak dapat diselesaikan di tingkat kabupaten, masalahnya diselesaikan di tingkat KPS Dili.

= Dengan persetujuan UNAMET memberikan bantuan kekuatan sesuai permintaan POLRI.

= Menindaklanjuti kesepakatan antara CNRT, FALENTIL dan pro integrasi tanggal 18 Juni 1999 dengan melaksanakan kantonisasi dan pelucutan senjata dari kedua kubu. FALENTIL hanya mau mengumpulkan senjata-senjata mereka di daerah-daerah kantonisasi yang telah disepakati, sedangkan pejuang pro integrasi telah mau menggudangkan senjata-senjata mereka. TNI bersama POLRI dan unsur-unsur KPS lainnya terus berupaya mengajak pimpinan kedua kubu untuk melucuti seluruh senjata mereka, namun kedua kubu tidak pernah mau melakukannya.

= Mengkondisikan pertemuan-pertemuan pimpinan kedua kubu agar dapat mensosialisasikan pelaksanaan jajak pendapat secara damai. Beberapa pertemuan dilakukan di Jakarta.

= Melaksanakan pertemuan di MAKOREM-Dili, antara seluruh unsur pimpinan lapangan se-wilayah KOREM 164/WD dengan pimpinan UNAMET dan UNMO dalam rangka membahas dinamika permasalahan sehingga dapat mengambil solusi yang tepat di lapangan.

= DANREM bersama unsur POLRI dan MUSPIDA mengecek secara langsung ke daerah-daerah setiap adanya pengaduan dari masyarakat, dari UNAMET atau dari aparat keamanan untuk diselesaikan secara tepat oleh semua pihak.

= Menjelaskan dan meyakinkan pimpinan UNAMET agar kekuatan TNI jangan dikurangi atau dipindah dari posisi mereka yang tersebar di kecamatan-kecamatan, UNAMET terus mendesak agar seluruh TNI dikurangi dan ditarik dari Timor Timur karena pengamanan jajak pendapat telah dilakukan oleh POLRI.

= Menerima secara bertahap seluruh media pers asing termasuk dari Carter Center untuk memberikan penjelasan tentang situasi di Timor Timur dan meminta pers agar menulis berita yang sebenarnya, tidak berat sebelah hanya memojokkan Indonesia.

= Secara terus menerus berkoordinasi dan melaksanakan pertemuan dengan UNAMET, UNMO & CIVPOL dalam upaya menyukseskan jajak pendapat secara adil dan dapat diterima oleh semua masyarakat Timor Timur.

= Mempersiapkan rencana evakuasi apabila terjadi situasi yang sangat buruk.

= Mengadakan pertemuan dengan pimpinan kedua kubu dan berhasil mempertemukan kedua pimpinan untuk menyepakati mewujudkan situasi dan rasa aman bagi seluruh masyarakat Timor Timur dalam melaksanakan jajak pendapat.

= Meminta UNAMET melibatkan TNI untuk memperkuat POLRI, dan menambah kekuatan TNI dari luar Timor Timur dalam rangka mengatasi perkembangan situasi.  

- Mulai tanggal 5 September 1999 pukul 19.30 wita setelah KODAL beralih kepada TNI dalam hal ini PANGDAM IX/UDY selaku PANGKOOPS memerintahkan DANREM 164/WD sebagai komandan KOLAKOPS melakukan kegiatan-kegiatan antara lain :

= Mengambil alih seluruh pengamanan personel UNAMET dari POLRI, mengamankan instalasi vital dan secepatnya mengatasi situasi dengan menggunakan kekuatan yang ada sambil menunggu bantuan kekuatan TNI dari luar Timor Timur.

= Memberlakukan jam malam di Dili dan daerah-daerah rawan lainnya.

= Menindak tegas kalau perlu tembak di tempat setiap yang mengancam keselamatan UNAMET.

= Memberlakukan evakuasi keluar wilayah Timor Timur.

- Mulai tanggal 7 September 1999 pukul 00.00 WITA diberlakukan darurat militer dan KODAL beralih di bawah Panglima penguasa darurat militer (PDM). Di awal pertemuan yang dilaksanakan di MAKOREM-Dili, dengan pimpinan UNAMET, Ian Martin dan pimpinan UNMO, Brigjen R. Haider, DANREM 164/WD mempertanyakan kepada mereka dua hal :

= Apakah anda melihat dan merasakan bahwa situasi sekarang telah berubah menjadi sangat buruk ? Mereka berdua menjawab “ya”.

= apakah anda telah mengetahui sepenuhnya mengapa situasi ini terjadi ?         Keduanya menjawab “ya”.

Sejak munculnya komplain tentang kecurangan UNAMET pada tanggal 30 Agustus 1999, DANREM 164/WD telah menyerahkan record kecurangan tersebut kepada Ian Martin dan Brigjen R. Haider untuk secara serius diselesaikan.

- KOREM 164/WD selain melakukan evakuasi personel dan materiil keluar wilayah Timor Timur, juga membantu panglima PDM dengan kegiatan :

= Mengevakuasikan personel UNAMET dan local staff melalui pelabuhan udara Baucau dan Dili menuju Darwin (Australia).

= Memperbantukan kekuatan KOREM 164/WD kepada penguasa darurat militer untuk memulihkan keamanan dan memfungsikan seluruh sarana kebutuhan masyarakat seperti PEMDA, Irigasi, TELKOM, listrik, gudang-gudang logistik, pelabuhan udara, pelabuhan laut, transportasi, penyaluran logistik, kesehatan dan lain sebagainya yang telah ditinggal mengungsi petugasnya.

- Mulai tanggal 20 September 1999 unsur depan Interfet memasuki Timor Timur, berturut - turut disusul dengan kekuatan bersenjatanya, dan aparat keamanan TNI/POLRI mengosongkan wilayah-wilayah kecuali Dili. Datangnya Interfet memberikan peluang bagi masyarakat pro kemerdekaan untuk turun dari persembunyiannya memasuki kota, merusak, membakar, menjarah dan berbuat semaunya kepada masyarakat pro otonomi yang masih berada di Timor Timur. Semua kejadian ini seolah-olah dibiarkan begitu saja oleh Interfet.

- Tepatnya pada tanggal 30 Oktober 1999 pukul 09.00 wita Timor Timur diserahkan sepenuhnya kepada UNTAET, dan sejak itu pula Timor Timur pisah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

- Inilah fakta-fakta yang sebenarnya terjadi di Timor Timur. Saya tidak memberikan jawaban siapa yang salah dan siapa yang benar atas kejadian di Timor Timur, masyarakat Indonesialah yang menilainya dan pimpinan PBB harus pula mengetahui apa sebenarnya yang telah dilakukan oleh UNAMET sebagai institusi yang semestinya adil di dalam menyelenggarakan jajak pendapat di Timor Timur.

Disusun Dalam Rangka Diskusi Interaktif Masalah Kecurangan UNAMET "Kebenaran Bisa Disalahkan, Tetapi Kebenaran Tidak Bisa Dikalahkan Oleh : Kolonel (INF) MUH. NUR MUIS Mantan Danrem 164/Wira Dharma Penyelenggara Lembaga Demokrasi Indonesia Baru (LDIB)